Pages

Kebudayaan di Indonesia dan Hubungannya dengan Manusia (Masyarakat)

Minggu, 22 Maret 2015

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

  1. Balimau

    Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian.Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.

    Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, mensucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, wilayah yang kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.

    Dalam agama Islam tak ditemukan ajaran seperti Balimau ini. Itulah sebabnya, tradisi ini sempat melahirkan kecaman dari tokoh agama di Padang. Tradisi ini dinilai peninggalan Hindu yang umatnya mensucikan diri di Sungai Gangga, India.

    Balimau dianggap mirip dengan Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya pada pertengahan Januari, kemudian ada Raksabandha sebagai penguat tali kasih antar sesama yang dilakukan pada Juli-Agustus, lalu Vasanta Panchami pada Januari-Februari sebagai pensucian diri menyambut musim semi.

    Kalau menelisik asal mula tradisi Balimau, Bangtjik Kamaluddin dalam bukunya, Mandi Belimau Di Dusun Limbung Bangka Belitung, mengatakan, awal mula yang menerapkan tradisi ini adalah masyarakat Desa Jada Bahri dan Desa Kimak Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

    Konon kabarnya, seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram Yogyakarta bernama Depati Bahrein melarikan diri dari kejaran Belanda. Pada 1700-an, sampailah Depati Bahrein bersama pasukannya ke Pulau Bangka. Depati Bahrein kemudian melakukan ritual mandi pertobatan yang kemudian dicontoh oleh warga sekitar.

    Akhirnya, istilah mandi pertobatan ini menjamur ke hampir seluruh Tanah Melayu sebelum memasuki bulan Ramadan yang dikenal dengan istilah Balimau atau Bakasai.

    Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berjalan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Namun secara umum, esensi Balimau sebagai simbol untuk mempersiapkan diri dengan kebersihan rohani pun bergeser.

    Dulunya balimau banyak aturan-aturan yang harus dijalankan seperti mandi menggunakan jeruk nipis dan bunga-bungaan. Namun sekarang ini sabun mandi lebih umum dipakai untuk mencuci tubuh, bukan lagi jeruk. Bahkan tempat pemandian pun juga di salah artikan.

    Saat ini, Balimau lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian. Bahkan, para muda-mudi menjadikan momen ini sebagai ajang hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja-remaja, Balimau hanya tinggal sebagai simbol. Balimau dijadikan alasan agar mendapatkan izin dari orang tua mereka untuk keluar bertamasya.

    Saat Tradisi Balimau berlangsung kerap terjadi perbuatan yang dinilai maksiat. Misalnya, ada yang menjadikan Tradisi Balimau sebagai ajang pacaran. Bahkan tak sedikit lelaki yang memelototi tubuh wanita yang lekuk tubuhnya terlihat jelas sebab badannya terbalut kain basah.

    Kelakuan sebagian orang itulah yang membuat tokoh agama di Minang meradang, sehingga menuding Tradisi Balimau lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Sehingga tokoh agama ada yang menentang tradisi terus dihidupkan. Sebab, mereka menilai tradisi itu sudah tak sejalan dengan filosofi “adat bersendikan syarak”.

    Alhasil, peraturan daerah tentang balimau pun dibuat, sehingga pengamanan perayaan itu diperketat. Setiap tahun, anggota Satpol PP Kota Padang dikerahkan untuk mengamankan kegiatan balimau di 25 titik pemandian, salah satunya Pemandian Lubuk Minturun.

    Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadan ini bukan hanya terjadi di Tanah Minang saja. Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai.

    Di kawasan Jawa, tradisi mandi suci disebut dengan Padusan. Ini dilakukan di setiap pelosok kampung. Juga dilakukan sehari menjelang ramadan. Padusan adalah simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tempat mandi yang dicari adalah yang alami. Sebab mereka percaya sumber air yang alami adalah air suci yang menghasilkan tuah yang baik. Dikutipd ari Wikipedia, Rep.On, dan berbagai sumber lainnya, Kamis

  2. Upacara Seba

    Upacara Seba adalah upacara masyarakat yang dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada seseorang yang telah berjasa kepada satu kelompok. Seseorang yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Baduy.

    Upacara Seba dalam tradisi masyarakat Baduy adalah ungkapan rasa syukur dan terimakasih serta penghormatan kepada pimpinan birokrasi di daerah tersebut atas hasil panen yang telah ada selama satu tahun. Biasanya masyarakat Baduy memberikan penghormatan kepada Bupati Banten. Upacara ini dilaksanakan pada pertengahan tahun di bulan April atau Mei setiap tahun. Selain itu, upacara Seba ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Bhatara Tunggal sebagai pemegang kekuasaan tertinggi masyarakat Baduy.

    Pada upacara ini, hal yang dibicarakan salah satunya adalah mengenai perkembangan masyarakat Baduy serta laporan selama 1 tahun. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kehidupan masyarakat Baduy agar lebih baik. Posisi pemerintah adalah mendengarkan dan bisa memberikan bantuan.

    Pelaksanaan upacara ini adalah masyarakat Baduy berangkat menuju Bupati dimana masyarakat Baduy harus ada Jaro sebagai orang kedua Puun, tokoh adat kajeroan, tokoh adat panamping, juru bahasa dan tokoh pemuda. Partisipasi dari orang-orang tersebut adalah bagian dari upaya untuk mentrasformasikan tradisi upacara Seba secara turun temurun sehingga akan selalu ada penerusnya.

    Tujuan lain dari upacara ini adalah silaturahmi antara masyarakat Baduy yang dipimpin oleh Jaro Tanggungan Duabelas dengan pemerintah setempat. Jaro menyampaikan kondisi sosial kemasyarakatan masyarakat Baduy kepada pihak pemerintah dalam hal ini Bupati Lebak. Usai kegiatan Upacara Seba masyarakat Baduy yang diwakili Jaro Tanggungan Duabelas dan petinggi adat yang lainnya memberikan bingkisan kepada pemerintah setempat.

    Biasanya upacara Seba terdapat dua macam yaitu Upacara Seba Gede dan Seba cukup. Upacara Seba gede adalah Upacara yang dilakukan dengan membawa barang bawaan hasil panen yang lengkap. Hal itu berdasarkan kondisi hasil panen yang banyak dan melimpah. Seba yang secukupnya itu dilakukan saat hasil panen kurang memuaskan atau tidak banyak dan tidak lancar.

    Acara upacara ini dilakukan sebagai bentuk kerjasama masyarakat Baduy dengan pemerintah setempat dalam menciptakan pembangunan yang baik khususnya di masyarakat Baduy.

  3. Upacara Tabut

    Perayaan Tabot pada mulanya dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Seperti telah diuraikan sebelumnya, nama "Tabut" berasal dari kata Arab yaitu Tabut, yang secara harfiah berarti Kotak Kayu atau Peti. Konon menurut kepercayaan kaum Bani Israil pada waktu itu bahwa bila Tabut ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka, akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Namun sebaliknya bila Tabut tersebut hilang maka akan dapat mendatangkan malapeta bagi mereka.

    Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.

    Di Bengkulu sendiri, upacara Tabot ini merupakan upacara hari berkabung atas gugurnya Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari upacara tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi'ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husien. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 01 sampai dengan 10 Muharram. Adapun tahapan dari upacara Tabot tersebut adalah sebagai berikut : Mengambil Tanah, Duduk Penja, Meradai, Merajang, Arak Penja, Arak Serban, Gam (masa tenang/berkabung) dan Arak Gedang serta Tabot terbuang.

    Sumber
  • http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1441/balimau
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Balimau
  • http://www.aktual.co/warisanbudaya/144048menengok-tradisi-mandi-balimau-di-sumbar
  • http://content.rajakamar.com/menengok-tradisi-balimau-mandi-jeruk-nipis-di-kota-padang/
  • http://www.nimusinstitute.com/seba
  • http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1135/seba
  • http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1334/upacara-tabot-bengkulu
Read more ...